Konflik Israel-Palestina dan Kesalahpahaman Kita…


Tulisan ini pernah dimuat di halaman Opini Harian Komentar, Kamis dan Jumat, 12 - 13 Februari 2009


AKHIR-akhir ini saya beberapa kali mendapat SMS dari sejumlah rekan dan kerabat, yang antara lain berbunyi: "Mau tahu bagaimana akhir perang Gaza di Palestina?" SMS itu dilengkapi sejumlah ayat Alkitab yang 'menjelaskan' tentang pertanyaan itu. SMS itu diakhiri dengan pesan agar meneruskan ke sesama Kristen, sehingga dipastikan saat ini sudah cukup banyak warga Kristen yang membaca SMS semacam itu.

Beredarnya SMS itu merupakan pertanda adanya kesalahpahaman yang sangat mendasar sebagian besar dari kita, menyangkut pertikaian antara Israel dan Palestina. Kesalahpahaman yang sudah mengakar sehingga dianggap sebagai kebenaran.


TIDAK IDENTIK


Kesalahpahaman yang pertama, adalah menganggap Israel itu identik dengan kekristenan. Anggapan ini umum berlaku bagi warga Kristen dan juga Islam, bukan hanya di Indonesia tapi seluruh dunia.

Namun benarkah Israel modern saat ini identik dengan kekristenan? Sama sekali tidak. Sebagai negara, Israel tentu saja tak ada hubungan dengan Kristen. Dari segi kepercayaan, juga tak ada kaitan. Mayoritas warga Israel beragama Yahudi, yang sampai sekarang masih menantikan datangnya Mesias. Artinya, para penganut agama Yahudi tidak mengakui Yesus sebagai Mesias (Juruselamat). Bagi mereka, Yesus hanyalah salah satu dari sekian banyak tokoh yang mengaku-aku sebagai Mesias. Karena
itu, bagi mereka Kristen adalah agama kafir.

Jadi, bagaimana mungkin orang Kristen merasa dekat dengan Israel sementara di pihak lain mereka justru menganggap kekristenan sebagai agama kafir?


Mungkin banyak orang Kristen merasa dekat dengan Israel, dengan alasan psikologis. Apalagi banyak lokasi di Israel yang sejak kecil sudah akrab dikenal karena terdapat dalam Alkitab. Hanya sedikit yang tahu kalau beberapa nama populer di Alkitab seperti Hebron, Yerikho dan Betlehem sekarang merupakan wilayah Palestina.


PALESTINA KRISTEN

Kesalahpahaman kedua, adalah menganggap Palestina identik dengan Islam. Memang, mayoritas warga Palestina beragama Islam. Namun jangan lupa kalau di Palestina juga hidup masyarakat yang beragama kristen, yang jumlahnya cukup signifikan. Dan warga Kristen ini bahu-membahu dengan sesama warga Palestina beragama Islam berjuang melawan agresi Israel.

Di akhir era '60-an hingga awal '70-an ada tokoh garis keras Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP) yakni George Habbash. Dia beragama Kristen. Di era '80-an ada juru runding PLO yang namanya disegani, Hasnan Asrawi. Dia, perempuan, dan beragama Kristen. Dan tentu saja yang paling terkenal adalah Suha, lulusan universitas terkemuka Perancis yang kemudian menjadi istri pemimpin Palestina
kharismatik, almYasser Arafat. Suha beragama Kristen.

Beberapa tahun lalu, ketika diadakan pertemuan pemuda se-dunia di Manado, utusan dari Palestina, adalah seorang gadis cantik yang beragama Kristen. Sebagai wartawan sebuah harian, saya kebetulan saat itu diajak panitia untuk ikut menjemput peserta dari Palestina ini, bersama peserta dari Israel di bandara Sam Ratulangi Mapanget.

Kesalahpahaman ketiga, adalah menganggap pertikaian Israel-Palestina sebagai perang agama. Terutama perang antara Kristen dan Islam. Anggapan ini salah besar karena pokok pertikaian sebenarnya soal politik. Yakni perebutan wilayah.


TIDAK KONSISTEN

Perebutan wilayah antara Palestina dan Israel memang berakar dari masa lalu yang rumit. Setelah sempat diaspora ke berbagai penjuru dunia usai Yerusalem dihancurkan oleh pasukan Romawi yang dipimpin jenderal Titus tahun 70 Masehi, bangsa Yahudi akhirnya berhasil 'kembali ke Sion' dalam program spektakuler yang kemudian dikenal sebagai Zionisme. Negara Israel modern akhirnya berdiri di tahun 1948.

Bangsa Israel mengklaim wilayah yang sekarang mereka duduki sebagai milik nenek moyang, yang dijanjikan Tuhan sebagai Tanah Perjanjian. Karena itu masyarakat Palestina yang mendiami kawasan itu selama ratusan tahun dianggap sebagai pendatang liar yang harus dienyahkan.

Ada banyak ayat dalam Kitab Taurat yang dianggap sebagai alasan untuk mengklaim wilayah itu. Antara lain yang menyatakan wilayah Israel terbentang "dari Dan ke Bersyeba".

Namun apakah memang warga Israel saat ini masih berhak mengklaim
wilayah yang dijanjikan Tuhan ribuan tahun yang lalu?

Jika apa yang dilakukan Israel saat ini, yakni mengklaim suatu wilayah sebagai milik dengan alasan kawasan itu dulu kala diduduki nenek moyang, diikuti negara lain, dipastikan peta dunia akan berubah total dan akan terjadi kekacauan yang luar biasa.

Dengan mengambil teladan pada Israel, maka Indonesia, bisa mengklaim Singapura, Brunei Darussalam dan Malaysia sebagai wilayah Indonesia. Alasannya, karena dulu kala wilayah itu termasuk dalam kekuasaan Kerajaan Majapahit, nenek moyang masyarakat Indonesia saat ini.

Negara Italia juga bisa mengklaim sebagian besar Eropa dan Asia sebagai milik mereka, karena dulu Kerajaan Romawi pernah menguasai wilayah itu. Atau Perancis yang bisa mengklaim Eropa sebagai wilayahnya karena dulu Napoleon Bonaparte pernah menguasai Eropa. Atau Spanyol dan Portugis bisa mengklaim separuh dunia, karena dulu kedua negara ini pernah membagi dua dunia untuk dikuasai. Daftar ini akan sangat panjang, dan tentu saja klaim semacam itu merupakan hal yang menggelikan dan sama sekali tidak masuk akal.

Lagipula, soal perebutan lahan, Israel modern tidak konsisten. Jika mereka memang ingin menguasai wilayah yang dulu dijanjikan Tuhan, maka seharusnya mereka juga memerangi negara Jordania. Karena sebagian wilayah Jordania saat ini merupakan milik nenek moyang Israel, yakni suku Ruben, Gad dan sebagian Manasye.

Israel modern juga harus memerangi negara Lebanon, karena sebagian wilayah Lebanon saat ini dulunya merupakan milik suku Asyer dan Naftali.


Sejauh ini tidak ada tanda-tanda Israel ingin memerangi Yordania dan juga Lebanon. Mereka lebih suka berperang dengan Palestina yang dari segi persenjataan merupakan lawan yang tidak sebanding.

KERAJAAN YEHUDA

Namun, apakah memang Israel saat ini berhak menguasai Tanah Perjanjian yang dijanjikan Tuhan? Mereka mungkin berhak, tapi hanya sebagian kecil. Mereka hanya berhak menguasai kawasan yang dulu merupakan wilayah Kerajaan Yehuda.

Kenapa begitu? Karena Israel saat ini sebenarnya merupakan keturunan Kerajaan Yehuda. (Istilah Yahudi berasal dari kata Yehuda).

Dari Perjanjian Lama kita mengetahui kalau kerajaan Israel Raya yang megah semasa pemerintahan Raja Daud dan Salomo akhirnya terpecah dua. Sepuluh suku membentuk kerajaan sendiri yang kemudian dikenal sebagai Kerajaan Israel Utara atau Israel, yang beribukota Samaria.

Sementara sisanya, suku Yehuda dan Benyamin, membentuk apa yang kemudian dikenal sebagai kerajaan Israel Selatan atau Kerajaan Yehuda, yang beribukota Yerusalem.

Kerajaan Israel Utara kemudian dikalahkan Kerajaan Assiria di bawah pimpinan Raja Tiglath-Pileser III pada tahun 722 sebelum Masehi. Penduduk kerajaan Israel ini dibuang ke negara asing. Sementara Kerajaan Yehuda dikalahkan Kerajaan Babilonia dibawah pimpinan Raja Nebukadnezar, 589 tahun sebelum Yesus lahir. Penduduknya juga dibuang ke Babilonia, terutama para cendekiawan (beberapa di antaranya yang kemudian menjadi terkenal adalah Sadrakh, Mesakh, Abednego dan tentu saja Daniel).

Penduduk Yehuda yang dibuang akhirnya bisa kembali ke tempat asalnya, setelah Babilonia dikalahkan Kerajaan Persia, tahun 538 SM. Sisa-sisa bangsa Yehuda, di bawah pimpinan Ezra dan Nehemia akhirnya membangun kembali komunitas Yehuda yang pada akhirnya lebih dikenal dengan nama Yahudi.

Bagaimana dengan masyarakat kerajaan sepuluh suku yakni Israel Utara yang dibuang oleh Tiglath-Pileser III? Sampai tulisan ini dibuat, mereka belum juga kembali ke Israel. Banyak spekulasi yang berkembang soal ke mana masyarakat sepuluh suku ini (yang dikenal dengan istilah 'the Lost Tribes', atau Suku yang Hilang). Ada yang mengatakan mereka ke Jepang dan menjadi bagian dari nenek moyang bangsa Jepang. Ada yang menduga sebagian dari mereka ke India, Cina, dan bahkan ada yang berspekulasi kalau sebagian kecil dari mereka kemudian mendarat di kawasan yang kemudian populer dengan nama… Malesung.

Ke mana Sepuluh Suku itu menjadi salah satu misteri yang hingga kini terus dicari jawabnya, sama halnya dengan misteri lain di Alkitab yang hingga kini belum terungkap, seperti 'di mana Tabut Perjanjian', dan 'Legenda Cawan Perjamuan Yesus'.

Jadi klaim bangsa Israel saat ini bisa dibenarkan sepanjang yang mereka duduki hanya bekas wilayah Kerajaan Yehuda ribuan tahun lalu. Dan jangan lupa, apa yang sekarang disebut sebagai Jalur Gaza, dulunya bukan merupakan wilayah Kerajaan Israel. Ribuan tahun lalu, Jalur Gaza merupakan bagian dari lima kota (pentapolis) yakni Gaza, Ashkelon, Ashdod, Gath dan Ekron, yang merupakan kawasan Kerajaan Filistin, yang
wilayahnya berbatasan dengan wilayah suku Simeon, Dan serta Yehuda.


HARI KIAMAT

Kenapa konflik Israel dan Palestina menarik perhatian sebagian warga Kristen? Saya menduga, ini terkait dengan apa yang dikenal sebagai Penghakiman Terakhir atau Hari Kiamat.

Dari berbagai skenario tentang akhir dunia yang banyak beredar, semua diawali dengan Korban Bakaran yang dilakukan oleh sosok misterius yang kemudian akan dikenal sebagai Pembinasa Keji atau Antikris. Figur bakal Antikris ini akan melakukan korban bakaran di Bait Suci (Bait Allah) yang terletak di Yerusalem.

Masalahnya, Bait Suci dimaksud sekarang tak ada lagi. Bait Suci pertama yang dibangun Salomo sudah dihancurkan pasukan Nebukadnezar. Bait Suci kedua yang dibangun bangsa Israel dan rampung dibawah pemerintahan Raja Herodes, sudah dihancurkan pasukan jenderal Titus tahun 70 Masehi. Yang tersisa hanya seonggok tembok yang dikenal sebagai Tembok Ratapan. Dan di bekas lokasi yang diyakini sebagai Bait Suci, kini berdiri Mesjid Al Aqsa atau Doom of the Rock, yang merupakan salah satu tempat suci masyarakat Islam.

Saya pernah membaca bahwa kini ada gerakan untuk membangun kembali Bait Suci. Suatu upaya yang tentu saja tidak mudah karena masyarakat Islam tentu saja tak akan rela jika Mesjid Al Aqsa dibongkar. Walau kini Yerusalem dalam kendali Israel, namun sejumlah lokasi seperti Al Aqsa masih dikuasai oleh Palestina.

Jadi dalam konteks ini, dapat dipahami jika sebagian masyarakat Kristen (yang rupanya sudah tak sabar menanti kedatangan Yesus yang kedua kali), menyimak konflik Israel-Palestina dengan penuh perhatian. Dasar pemikirannya adalah, jika Palestina berhasil dimusnahkan, maka upaya membangun kembali Bait Suci tak akan menemui kendala berarti. Jika Bait Suci sudah dibangun, maka sosok (bakal calon) Antikris akan muncul. Umat yang percaya akan diangkat ke Sorga, kesusahan besar dimulai, dan klimaksnya Yesus akan datang kembali untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.

Dengan lain kata, selama Bait Suci belum dibangun, Antikris belum akan muncul dan tentu saja penghakiman terakhir belum akan terjadi. Artinya, dunia belum akan kiamat!!

Satu hal yang tidak diketahui oleh orang Kristen yang mengharapkan bangsa Palestina musnah adalah, sebagian warga Palestina itu beragama Kristen.

Karena itu, pembaca, jika kapan-kapan Anda melihat tayangan di televisi tentang serangan Israel, dan ketika melihat mayat bergelimpangan, melihat jenasah anak-anak berlumuran darah di jalan raya, mohon jangan senang dulu.

Sebagian anak-anak dan perempuan yang meregang nyawa itu percaya pada Yesus. Sebagian dari mereka hafal Doa Bapa Kami.

Mereka, saudara seiman dengan kita, tewas mengenaskan dibunuh oleh pihak yang selama ini kita banggakan sebagai 'Bangsa Pilihan Tuhan'!!

5 comments:

Bill said...

Mantap Far!! Religius, Ilmia, Logis! Sukses selalu

lia kusuma said...

Ijin share ke beranda facebook saya y pak ... sudah terdoktrin saya dan teman2 bahwa mayat2 itu adalah seagama dgn kami dan kami jadi terpancing untuk menghujat kembali, semoga tulisan bapak ini benar adanya, terima kasih :)

Anonymous said...

Waduh...walaupun yg meninggal di Palestina itu bukan beragama Kristen, sebagai umat Kristen ( Katolik ) sungguh sangat tidak manusiawi dan bertentangan dgn ajaran iman saya utk menertawakan hal tersebut....binatang saja yg mati tetap tdk pantas ditertawakan...apalagi mahluk ciptaan Tuhan...saya rasa seorg manusia sejati yg msh waras tidak akan tertawa menyaksikan pembantaian seperti itu.... Siapa pun korbannya...apapun agamanya...

Anonymous said...

Kalau orang kristen membela yahudi mati matian itu lucu..Yesus tidak diakui oleh bangsa yahudi dan disiksa seperti itu. Membela Gaza jng bawa nama agama tapi rasa kemanusiaan

Anonymous said...

Nah yang jadi lucu di manado ini banyak bgt orang yang ndak ngerti seperti apa hubungan sesungguhnya antara agama yahudi dengan kristen, tapi dengan bangga pasang lambang yahudi - bintang daud, contoh gampangnya stiker2 di kendaraan. (wong_jowo)

.
.
Powered by Blogger.