Bagaimana Sylvester Stallone Menjaga Ambisi


SEBERAPA besar dampak sebuah ambisi pada kesuksesan? Apa yang dialami dan dilakukan Sylvester 'Sly' Stallone bisa dijadikan pelajaran.
Ketika dilahirkan, karena kesalahan dalam proses persalinan, wajah Sly menjadi tidak simetris. Sly pun diolok-olok semasa sekolah. Kesal menjadi korban perundungan, Sly mengikuti program kebugaran dan melatih otot-ototnya. Saat itulah dia mulai berpikir untuk menekuni dunia akting. Dia memulai kiprahnya dengan bermain di film semi erotis.
Di tahun 1974, dengan istri yang hamil dan seekor anjing, karir Sly di dunia film mandek. Namun dia tetap punya mimpi bahwa suatu ketika dia akan menjadi bintang besar. Dia punya ambisi untuk sukses dengan menjadi bintang film. Karena tak punya uang, Sly terpaksa menjual perhiasan milik istrinya. Dia juga akhirnya menjual anjing kesayangannya seharga $25.
Suatu ketika, Sly menyaksikan pertandingan tinju di televisi antara Mohammed Ali melawan Chuck Wepner. Pertandingan seru itu memunculkan ide di benaknya. Selama 20 jam berikutnya Sly duduk dan menulis naskah film tentang perjuangan seorang petinju, yang diberi judul Rocky. Naskah itu kemudian diajukannya ke sejumlah studio.
Kepada studio yang dijajaki, Sly menawarkan satu paket: naskah dan dirinya sebagai aktor utama. Setelah mengalami banyak penolakan (menurut perkataan Sly, dia ditolak sebanyak 1500 kali, namun mungkin dia sedikit bercanda), akhirnya ada studio yang bersedia membayar naskahnya sebesar $125.000.
Uang sebesar itu seharusnya cukup untuk menghidupi keluarga. Apalagi istrinya sedang hamil. Namun Sly menolak. Dia berambisi menjadi bintang. Dan untuk menjadi bintang, dia harus menjadi pemeran utama di film itu. Dia harus memerankan Rocky.
Saat itu, usulan Sly agar dia menjadi pemeran utama tergolong tidak biasa. Bertubuh kekar dengan wajah tidak simetris dan cara berbicara yang aneh, Sly bukan sosok ideal untuk menjadi bintang. Tak heran usulan Sly ditolak.
Beberapa pekan kemudian studio yang sama menawar naskahnya sebesar $250.000, namun tanpa dia. Sly menolak. Studio menaikkan tawaran untuk naskah menjadi $350.000, minus Sly. Tawaran itu kembali ditolak. Sly tetap berusaha meyakinkan pihak studio bahwa dia merupakan figur yang tepat untuk bermain di film itu. padahal, saat itu pihak studio sudah menyiapkan sejumlah nama untuk berperan sebagai Rocky, antara lain aktor Robert Redford dan Burt Reynolds.
Saat itu, rata-rata orang di sekitarnya mendesak agar Sly menerima tawaran studio dan menjual naskahnya. Dia disebut bodoh jika menolak tawaran seperti itu. Namun Sly bergeming. Karena pihak studio benar-benar menyukai naskahnya, akhirnya terjadi kesepakatan. Studio membeli naskahnya sebesar $35.000 dengan Sly sebagai pemeran utama.
Film Rocky dibuat dengan biaya $1 juta, dan menghasilkan keuntungan sebesar $200 juta. Film Rocky berjaya di Academy Award dan mendapat Piala Oscar untuk kategori Best Picture, Best Directing dan Best Film Editing. Film Rocky kemudian dibuat lanjutannya hingga Rocky V. Stallone menjadi aktor papan atas seperti yang diimpikannya.
Selain Rocky, dia terkenal dengan peran fenomenal sebagai Rambo. Di usia senja Stallone tetap eksis dengan antara lain terlibat dalam franchise The Expendables yang juga laris. Di akhir 2015 Stallone juga terlibat dalam film Creed, film yang mengisahkan tentang peinju muda, putra musuh sekaligus teman Rocky Balboa. Film Creed juga lumayan laris.
Dan apa yang dilakukannya pada uang $35.000? Dia kembali ke toko hewan tempatnya menjual anjing dan mengidentifikasi pembelinya. Sly kemudian membeli anjingnya kembali seharga $15.000.  
Menjaga ambisi
Sly mengajarkan kita untuk tidak membiarkan harapan melayang. Untuk tidak pernah berhenti bermimpi. Untuk tetap menjaga ambisi.
Ambisi merupakan energi yang membuat Sly tetap bertahan pada visinya. Ambisi merupakan motor yang menggerakkan seluruh upayanya untuk menggapai kesuksesan. Sly tahu apa yang diinginkan dan dia berpegang pada keinginan itu sampai terwujud.
Sly tidak sendiri. Semua orang yang sukses di dunia ini memiliki ambisi yang tinggi yang memberi arah pada jalan dan visi yang akan dan sedang ditempuh. Ambisi jangan dicampur-adukkan dengan keserakahan. Ambisi bukan keserakahan. Ambisi memberi cetak biru pada kesuksesan. Tanpa ambisi, Anda tak akan punya motivasi untuk melakoni perjalanan yang menghantar ke kesuksesan.
Sama seperti Sylvester Stallone yang berambisi menjadi bintang film terkenal, dan akhirnya berhasil mewujudkan ambisi dan mimpinya, begitu juga dengan Anda dan saya.
Anda ingin berhasil? Anda ingin sukses? Berambisilah. Dan wujudkan ambisi Anda itu.<>

No comments:

.
.
Powered by Blogger.