Tablod Bola (Akhirnya) Menyerah, Siapa Menyusul?

Cover edisi terakhir tabloid Bola


TABLOID  Bola yang biasa mengulas informasi dan berita seputar olahraga, akhirnya  memilih untuk menyerah. Setelah wara-wiri selama 34 tahun, tabloid Bola memutuskan untuk tidak terbit.

Edisi terakhir tabloid ini menyapa pembaca pada Jumat, 26 Oktober 2018, dengan No. 2915. Sejak November 2018, tabloid Bola praktis tak bisa ditemui di konter koran dan majalah terkemuka.

Berawal dari sisipan di koran Kompas, Bola kemudian menjadi tabloid yang menjadi rujukan para penggemar olahraga, terutama sepak bola. Di masa jayanya, tabloid ini menjadi sumber referensi penikmat bola, dan sisipan poster yang menjadi bonus di setiap edisi telah menghiasi jutaan kamar di berbagai penjuru Indonesia.

Sejak tayang pertama kali pada Maret 1984, tabloid BOLA milik Kompas Gramedia ini telah mengulas sembilan kali ajang Piala Dunia, serta liputan eksklusif  Piala Eropa, Liga Champions, dan tentu ulasan tentang liga terkemuka, terutama Italia, Inggris dan Spanyol.

Di masa jayanya, Bola pernah menjadi tabloid nomor satu berdasarkan survei lembaga Indonesia Customer Satisfaction Award (ICSA) pada 2000 dan memiliki kontributor di berbagai negara, salah satunya Rayana Jakasurya yang rutin mengabarkan info terbaru tentang liga Italia.

Kenapa Bola akhirnya pamit dan menyerah?

Pada akhirnya, tabloid Bola tak bisa melawan arus modernisasi. Dulu, tabloid ini bisa disebut sebagai satu-satunya rujukan. Tabloid ini mengulas dunia olahraga dari berbagai sisi.

Kini, di jaman now, tabloid Bola tak lagi menjadi primadona. Munculnya teknologi digital memungkinkan informasi bisa diakses secara real time, kapan saja dan di mana saja.

Kemudahan akses informasi membuat tabloid Bola secara perlahan tak lagi relevan. Dulu, penikmat Bola harus menunggu pada hari Selasa untuk mengetahui review dan ulasan hasil pertandingan liga. Kini, teknologi digital memungkinkan penikmat bola bisa mengetahui hasil pertandingan hanya beberapa menit setelah laga berakhir.

Penikmat sepakbola juga tak perlu ulasan atau review hasil pertandingan karena mereka bisa menyaksikan cuplikan gol di Youtube.

Tabloid Bola yang menyapa pembaca setiap Selasa dan Jumat pada akhirnya tertatih, dan tak mampu mengimbangi kecepatan arus informasi yang bisa diupdate dalam hitungan detik. Karena bagi pembaca, tak ada alasan untuk menunggu hingga Selasa untuk mengetahui hasil pertandingan di hari Sabtu dan Minggu, yang bisa diakses di hari yang sama.

Pembaca juga tak perlu membaca Bola edisi Jumat karena preview senada bisa dibaca secara gratis di sejumlah media online.

Konsekuensi jaman

Saya bukan pelanggan tetap Tabloid Bola. Namun saya biasa membeli tabloid ini, setidaknya dua hingga tiga kali dalam sebulan. Pada periode tertentu, seperti menjelang dan selama Piala Dunia, atau Liga Champions, biasanya saya membeli setidaknya sekali dalam sepekan.

Karena itu, saya termasuk pihak yang sedih dengan kepegian Bola. Dengan berlalunya tabloid Bola, maka tak ada lagi tabloid yang secara khusus membahas berbagai hal tentang sepak bola.

Tabloid Bola merupakan media milik Kompas Gramedia kesekian yang hilang dari peredaran karena kalah bersaing dengan media online. Sebelumnya, pada Juni 2017, majalah remaja pria HAI (yang duluuu sekali sering saya beli dan baca), juga menyatakan pamit dan akan fokus pada media online.

Pamitnya tabloid Bola, juga majalah seperti Hai, merupakan konsekuensi perkembangan jaman. Ketika jaman sudah berubah, maka pihak yang tak bisa menyesuaikan diri akan tercecer. Dan pada akhirnya, akan hilang dan lenyap.

Media online berjaya?

Tabloid Bola dan majalah Hai bukan media cetak pertama yang dipaksa untuk menyerah. Di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, ratusan media cetak, baik koran, tabloid maupun  majalah sudah tutup, atau dipaksa beralih ke media online.

Persaingan dengan internet memang amat sangat ketat, bahkan cenderung brutal. Berbeda dengan munculnya radio dan televisi yang relatif tidak terlalu memengaruhi, maka kehadiran media online betul-betul menjadi pukulan berat bagi media cetak.

Dengan semakin besarnya penetrasi teknologi dalam kehidupan manusia, maka beralih ke online merupakan langkah yang masuk akal. Meski, hal itu tidak mudah.

Jika pada media cetak sumber pemasukan adalah iklan dan oplah, maka di online satu-satunya pemasukan adalah iklan. Padahal, untuk meraup pemasukan melalui iklan online itu tidak mudah. Sebuah media perlu waktu bertahun-tahun untuk bisa dipercaya pihak perusahaan untuk menjajakan iklan.

Memang, ada alternatif lain seperti iklan  Google Adsense. Namun dengan semakin merebaknya media online (karena kini, siapapun bisa membuat media online dengan harga yang terjangkau), maka kue iklan dari Google juga semakin kecil. Apalagi kini mayoritas pengguna internet sudah lumayan cerdas dan tidak tergoda untuk mengklik iklan yang tayang.

Menyerahnya tabloid Bola yang kini sepenuhnya beralih ke media online, bisa menjadi pertanda kalau masa depan media memang berada di dunia online.

Namun untuk benar-benar sukses di media online itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu waktu yang lama dan kemampuan untuk menawarkan sesuatu yang berbeda. Pada akhirnya, prinsip utama dalam dunia bisnis yang akan berlaku. Yakni hanya media (online) berkualitas yang akan bertahan.

Tabloid Bola sudah meninggalkan gelanggang dan menyerah kalah.

Siapa menyusul?

No comments:

.
.
Powered by Blogger.